Merek lebih dari sekadar logo
Nielsen Norman Group menggambarkan merek sebagai persepsi seseorang tentang nilai, yang terbentuk dari semua pengalamannya dengan sebuah perusahaan. Visual adalah satu bagian. Gaya bahasa adalah bagian lain. Cara perusahaan berperilaku adalah bagian ketiga.
Identitas merek adalah sistem yang menjaga semua itu tetap konsisten: logo, warna, tipografi, citra, gaya bahasa, dan aturan pemakaiannya.
Di mana AI membantu
AI adalah partner yang kuat di fase eksplorasi, saat kamu butuh banyak variasi dengan cepat.
- Penamaan: membuat daftar panjang nama untuk ditanggapi dan disempurnakan.
- Mood board: mengumpulkan gambar dan kata untuk berbagai arah.
- Arah logo: membuat sketsa banyak konsep kasar untuk menemukan yang menjanjikan.
- Teks: menyusun draf tagline dan contoh gaya bahasa untuk diuji.
- Mockup: menampilkan merek di kemasan, papan nama, dan layar sebelum final.
Di mana AI membutuhkanmu
AI cenderung menghasilkan yang rata-rata, dan merek yang rata-rata mudah dilupakan. AI juga bisa menghasilkan nama dan tanda yang terlalu mirip dengan yang sudah ada. Kamu akan belajar mengarahkannya dengan brief yang tajam, memeriksa hasilnya, dan menggambar ulang karya akhirnya secara manual.
Masih ada pertanyaan terbuka tentang siapa pemilik karya buatan AI, dan aturannya berbeda di tiap negara. Kamu akan mempelajari dasar-dasarnya, cara mengungkapkan pemakaian AI dengan jujur, dan kenapa alat seperti Content Credentials ada.
Gaya bahasa
Merek juga punya suara. Nielsen Norman Group memetakan gaya bahasa dalam empat dimensi: formal atau santai, serius atau lucu, sopan atau nyeleneh, dan lugas atau antusias. Memilih posisi di masing-masing dimensi, lalu menulis contohnya, membuat gaya bahasa itu bisa dipakai oleh seluruh tim.
